Gempa Guncang Riung, Puluhan Warga Terluka, Seorang Korban Meninggal di Posko Pengungsian

RIUNG — Gempa bumi yang mengguncang wilayah Kecamatan Riung, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, menyebabkan puluhan warga mengalami luka-luka. Sejumlah rumah dilaporkan roboh dan hancur total, sementara warga yang terdampak harus mendapatkan penanganan di tengah situasi darurat di sejumlah posko pengungsian.

Berdasarkan data korban yang dihimpun, sedikitnya 30 warga mengalami berbagai jenis cedera, mulai dari luka ringan, luka robek, memar, patah tulang hingga cedera akibat tertimpa material bangunan.

Kondisi paling serius dialami sejumlah warga yang sempat tertindih reruntuhan rumah. Salah satunya adalah Nasir Tayeb, warga Kelurahan Nangamese, yang mengalami luka pada bagian kepala, badan dan perut. Kondisinya dilaporkan parah.

Sementara itu, Sapiha, yang juga merupakan mertua Bahring, mengalami sakit di seluruh tubuh setelah tertimbun bangunan. Ia juga dilaporkan dalam kondisi parah.

Dalam satu keluarga di Kelurahan Nangamese, gempa juga menyebabkan sejumlah anggota keluarga menjadi korban. Bahring mengalami luka pada kaki setelah rumahnya roboh total. Istrinya, Nurhidayah, mengalami luka pada kepala dan badan. Anak mereka, Nirfani, mengalami luka pada kepala dan punggung, badan terasa sakit serta dilaporkan mengeluarkan darah dari mulut.

Korban lainnya, Harti Zulkifli, warga Desa Kota Raja, mengalami sakit pada bagian leher setelah tertindih. Rumahnya dilaporkan hancur total. Dua anaknya, Ariful, 10 tahun, mengalami luka pada dahi dan nyeri leher, sedangkan Muh. Fakri mengalami luka pada bagian punggung.

Dampak gempa juga dirasakan warga di sejumlah desa lainnya. Puspa Sari, warga Desa Sambinasi, mengalami luka pada kepala dan mata serta trauma. Muamar, 29 tahun, warga Desa Tadho Barat, mengalami luka pada kepala, tangan terkilir dan kesulitan menggerakkan leher.

Di Desa Tadho Barat, Fahat Ismail, 3,5 tahun, mengalami luka pada kaki dan memar pada betis. Sementara Sofia Rae, 40 tahun, mengalami luka pada kepala dan punggung.

Korban lain yang tercatat antara lain Siti Haredan, 60 tahun, warga Desa Ite Jaya, yang mengalami luka pada kepala, memar pada mata dan pusing. Mega Ndawu, 16 tahun, mengalami luka pada kaki. Ernawati, 38 tahun, warga Desa Tadho Tengah, mengalami luka robek pada kepala.

Di Desa Sambinasi, Saban, 58 tahun, mengalami patah kaki, sementara Suhartini, 47 tahun, mengalami luka robek pada kepala. Maria Kristina Obo, 38 tahun, warga Tadho, mengalami luka lecet pada paha kanan akibat terkena kawat. Wawan Asnawan, 38 tahun, juga tercatat mengalami cedera pada kaki kiri.

Korban lainnya, Yohana F. Regina, 48 tahun, mengalami memar dan pembengkakan pada lutut kanan. Weny Rita Sari, 37 tahun, mengalami benjolan pada kepala serta memar pada kedua lengan.

Seorang anak berusia 7 tahun, Lasira A. Sani, mengalami memar dan benjol pada kepala. Ancila Yuliana, 34 tahun, mengalami luka lecet pada kedua lutut, tangan kiri dan wajah.

Aminudin, 49 tahun, mengalami nyeri dada setelah terbentur kayu saat gempa. Sementara Noval, 8 tahun, mengalami nyeri kepala dan demam yang dilaporkan sudah berlangsung selama satu hari.

Kondisi juga dialami balita Kenzi Ade Usman, 2,5 tahun, warga Sambinasi. Ia mengalami lebam pada pipi kiri, dahi dan pelipis serta sempat mengalami muntah-muntah.

Suryati Fatma, 35 tahun, warga Desa Sambinasi, mengalami benjolan di kepala serta memar pada jari kaki, betis, lutut, lengan dan tangan.

Salah satu korban lainnya, Tamjil Lakende, 53 tahun, warga Desa Sambinasi, mengalami sakit di seluruh tubuh setelah tertindih bangunan. Ia sempat dilaporkan tidak sadarkan diri dan kemudian mengalami nyeri dada, pinggang serta kedua kaki.

Kabar duka dari posko pengungsian


Di tengah penanganan para korban, kabar duka turut datang dari lokasi pengungsian. Wilhelmus Separ dilaporkan meninggal dunia di lokasi posko pengungsian.

Kabar tersebut menambah duka warga yang sedang menghadapi situasi pascagempa. Para korban luka kini membutuhkan penanganan medis, sementara warga yang rumahnya roboh atau mengalami kerusakan total harus bertahan di tengah kondisi darurat.

Data korban dan kondisi masing-masing warga masih dapat berubah seiring proses pendataan, pemeriksaan medis, serta penanganan oleh petugas di lapangan.

Perhatian kini tertuju pada upaya evakuasi, penanganan korban luka, pemenuhan kebutuhan warga terdampak, serta pendataan kerusakan rumah akibat gempa di Kecamatan Riung.

Komentar