Kegiatan tracking yang merupakan rangkaian hari kedua Festival Komodo Riung ini mengambil titik awal di Desa Persiapan Golo Riung. Bupati Ngada dan Wakil Bupati Ngada turut hadir dalam kegiatan tersebut dan disambut dengan tradisi Tia Raga oleh masyarakat setempat.
Tracking menuju Kampung Lama Riung menjadi salah satu kegiatan yang menarik perhatian masyarakat. Selain menikmati keindahan alam, kegiatan ini juga menjadi kesempatan untuk melihat langsung potensi sejarah dan pertanian yang ada di wilayah tersebut.
Tokoh masyarakat Riung, Nur Hambaka, dalam kesempatan itu menyampaikan harapan masyarakat agar kegiatan tracking tersebut dapat menjadi perhatian pemerintah terhadap kondisi akses jalan di wilayah Golo Riung.
Menurutnya, masyarakat berharap pemerintah dapat membantu membuka dan memperbaiki akses jalan dari Desa Persiapan Golo Riung menuju Desa Taen Terong 1. Wilayah tersebut merupakan salah satu kawasan penghasil pertanian yang selama ini menjadi penopang kehidupan masyarakat Riung.
“Harapan kami, dengan adanya kegiatan tracking hari ini, pemerintah bisa melihat langsung kondisi di lapangan, terutama akses menuju wilayah pertanian masyarakat,” ujar Nur Hambaka.
Selain persoalan akses jalan, Nur Hambaka juga mengungkapkan bahwa Kampung Lama Golo Riung memiliki nilai sejarah yang penting. Di lokasi tersebut terdapat sebuah meriam yang pada masa lalu digunakan dalam peperangan.
Bupati Ngada Ajak Masyarakat Bangun Komunikasi
Dalam sambutannya saat membuka kegiatan tracking, Bupati Ngada menegaskan pentingnya komunikasi yang baik dalam proses pembangunan di Kabupaten Ngada, khususnya di wilayah Riung.
Ia mengatakan, pembangunan tidak dapat berjalan sendiri. Karena itu, diperlukan komunikasi antara pemerintah dan masyarakat agar berbagai program yang dilakukan benar-benar sesuai dengan kebutuhan di lapangan.
“Kita perlu melakukan komunikasi-komunikasi dengan baik, sehingga pembangunan yang dilakukan bisa benar-benar berjalan dengan baik,” katanya.
Pada kesempatan tersebut, Bupati Ngada juga menyampaikan bantuan sebesar Rp100 juta untuk Masjid Lama Riung.
Selain persoalan pembangunan, Bupati juga mengingatkan masyarakat bahwa dalam waktu dekat akan berlangsung pemilihan kepala desa. Ia berharap seluruh proses tersebut dapat berjalan aman dan damai.
Bupati mengajak masyarakat untuk tetap menjaga persaudaraan dan tidak menjadikan perbedaan pilihan sebagai alasan untuk memutus hubungan antara sesama.
Wakil Bupati Soroti Kewenangan dan Status Kawasan Konservasi
Sementara itu, Wakil Bupati Ngada dalam sambutannya menyoroti persoalan kewenangan dalam pembangunan di wilayah Riung.
Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah harus berani mengambil tindakan, namun tetap mengedepankan komunikasi dengan pemerintah di tingkat provinsi maupun pusat.
“Kita harus berani mengambil tindakan dan tetap berani berkomunikasi dengan baik, baik di tingkat provinsi maupun tingkat pusat,” ujarnya.
Menurutnya, komunikasi lintas pemerintahan menjadi penting karena sebagian besar wilayah Riung masuk dalam kawasan Cagar Alam. Kondisi tersebut membuat berbagai rencana pembangunan dan pengembangan wilayah perlu memperhatikan aturan serta kewenangan yang berlaku.
Karena itu, pemerintah daerah diharapkan dapat terus membangun koordinasi dengan berbagai pihak agar kepentingan masyarakat tetap dapat diperjuangkan tanpa mengabaikan ketentuan mengenai kawasan konservasi.
Kegiatan tracking menuju Kampung Lama Golo Riung ini turut dihadiri Kabag Umum Kabupaten Ngada Indra Jaya Petor Sila, Camat Riung Emanula Kora, serta pihak Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) NTT.
Melalui Festival Komodo Riung 2026, kegiatan tracking ini diharapkan tidak hanya menjadi bagian dari agenda festival, tetapi juga membuka ruang bagi pemerintah, masyarakat dan berbagai pihak untuk melihat langsung potensi alam, sejarah, budaya, serta kebutuhan pembangunan di wilayah Riung.






Komentar
Posting Komentar